Kamis, 12 November 2015



   Simpang Lima Gumul dan Memori Kejayaan Industri Gula       


            Jumat sore tanggal 18 September 2015 kemarin di sela-sela nunggu adik yang sedang kursus di sebuah LBB di Kota Kediri, saya sempatkan untuk pergi ke SLG. Sebenarnya bosan juga kesana. Paling cuma gitu-gitu saja, begitu pikir saya. Hanya saja daripada diam dan tak ada kerjaan lebih baik saya berkeliling. Siapa tahu menemukan sesuatu yang baru. Pada akhirnya ternyata tidak salah saya menuruti insting. Saat berkeliling kawasan SLG, saya melihat ada lokomotif. Lokomotif tersebut tepat berada di sebelah barat kawasan SLG. 




Jelas aneh karena cuma ada lokomotif dan relnya yang panjangnya tidak sampai 100 meter dan tanpa gerbong pula. Tidak mungkin ada kereta yang berangkat dari situ. Setelah beberapa detik berpikir, saya baru sadar. Beberapa tahun lalu Pemkab Kediri punya wacana untuk membangun museum kereta api atau lebih tepatnya museum lokomotif di kawasan SLG. Tahun ini akhirnya hal tersebut terwujud walau memang belum dapat disebut sebagai museum. Sebab benda yang dipamerkan hanya sebuah lokomotif. Hanya saja setidaknya sebuah lokomotif ini sudah dapat menimbulkan kesan tersendiri kepada masyarakat yang melihatnya.
Lokomotif kereta pengangkut tebu ini seperti ingin menunjukkan jika Kediri di masa Hindia Belanda adalah salah satu kawasan penting dalam kegiatan produksi gula. Orang-orang tua terutama yang sempat merasakan masa penjajahan Belanda pasti ingatannya akan terbawa kembali ke masa kecilnya. Mereka lalu akan bercerita kepada anaknya dan cucunya tentang keberadaan kereta-kereta pengangkut tebu tersebut sehingga akan timbul rasa penasaran. Penasaran dengan keberadaan kereta pengangkut tebu. Efeknya, masyarakat akan dihinggapi romantisme masa lalu. Mereka akan memiliki kesadaran dalam pikirannya bahwa sudah seharusnya tebu-tebu sekarang tidak diangkut dengan truk tetapi kereta seperti halnya ketika masa Hindia Belanda dulu. 
Hal lain yang perlu disadari adalah, keberadaan lokomotif tersebut tidak hanya memberikan efek psikologis bagi masyarakat. Bagi pemkab Kediri, keuntungannya adalah mendapatkan gengsi. Gengsi sebagai salah satu daerah utama penghasil gula di masa lalu dan masa kini. Orang akan langsung tahu jika ke Kediri itu tidak hanya untuk membeli tahu kuning atau karena hendak mengunjungi sebuah kota bekas pusat kerajaan kuna tetapi juga salah satu daerah utama dalam produksi komoditas perdagangan Hindia Belanda. Efeknya wisatawan yang datang akan semakin banyak dan keuntungan ekonomi akan didapat.
Akhirnya saya pulang dari SLG dengan penuh kelegaan. Kepenatan hilang dan dapat ide tulisan yang sekarang sedang anda baca ini.